Pasukan pendudukan Israel terus meningkatkan agresinya di Tepi Barat, terutama di wilayah Tulkarm dan Jenin. Sumber-sumber lokal melaporkan bahwa sekitar 9.000 warga Palestina telah dipaksa mengungsi dari Kamp Pengungsi Nur Shams di Tulkarm. Secara keseluruhan, pasukan Israel telah memaksa 40.000 warga Palestina mengungsi dari kamp-kamp pengungsi di wilayah Jenin dan Tulkarm, melarang mereka untuk kembali ke rumah mereka.
Komite Kamp Nur Shams mengecam penghancuran sistematis yang dilakukan Israel di wilayah tersebut. Lebih dari sepuluh rumah telah dihancurkan sejak awal agresi, dan infrastruktur kamp mengalami kerusakan total akibat serangan yang terus berlangsung. Komite menuduh Israel secara sengaja menargetkan infrastruktur sipil, meninggalkan kamp dalam kondisi porak-poranda.
Sebagai bagian dari eskalasi militernya, Israel mengerahkan bala bantuan tambahan ke Kota Tulkarm serta kamp-kamp pengungsinya, termasuk Nur Shams. Unit infanteri dikerahkan di jalan-jalan dan lingkungan sekitar, sementara penggerebekan terhadap rumah-rumah warga Palestina terus dilakukan. Pasukan Israel tidak hanya merusak dan menghancurkan isi rumah, tetapi juga mengosongkannya untuk dijadikan barak militer. Selain itu, mereka memperketat pengepungan di Kamp Tulkarm dan Nur Shams, melarang warga masuk atau keluar serta menghalangi kerja tim bantuan yang berupaya menyalurkan makanan dan kebutuhan pokok bagi penduduk yang masih bertahan.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan bahwa pasukan Israel akan tetap berada di kamp-kamp pengungsi Palestina setidaknya selama satu tahun untuk mencegah para penduduk kembali. Ia juga mengumumkan bahwa pasukan Israel mulai memperluas operasi militer mereka ke Kota Qabatiya. Menurut laporan, militer Israel telah memberlakukan jam malam selama dua hari di kota tersebut, sambil menghancurkan jalan-jalan serta infrastruktur dengan buldoser militer.
UNRWA telah memperingatkan bahwa operasi militer Israel telah menyebabkan eksodus massal dari kamp-kamp pengungsi di Tepi Barat bagian utara. Organisasi tersebut menekankan bahwa pengungsian paksa ini merupakan akibat dari lingkungan yang semakin berbahaya dan penuh tekanan. UNRWA juga mencatat bahwa penggunaan serangan udara, buldoser lapis baja, ledakan terkendali, dan persenjataan canggih oleh militer Israel telah menjadi praktik umum, menciptakan gelombang pengungsian yang semakin meningkat.
Sejak dimulainya serangan Israel terhadap Gaza pada 7 Oktober 2023, kekerasan di Tepi Barat juga meningkat drastis. Setidaknya 923 warga Palestina telah terbunuh dan hampir 7.000 lainnya terluka akibat serangan militer Israel dan aksi brutal pemukim ilegal, menurut Kementerian Kesehatan Palestina. Pengadilan Internasional (ICJ) pada Juli lalu telah menyatakan bahwa pendudukan Israel atas wilayah Palestina adalah ilegal dan menyerukan pengosongan seluruh permukiman di Tepi Barat dan Al-Quds bagian timur (Yerusalem Timur). Namun, Israel terus mengabaikan keputusan ini dan melanjutkan kebijakan represifnya terhadap rakyat Palestina.
sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








