Genosida yang dilancarkan Israel di Jalur Gaza telah merenggut nyawa 200 nelayan Palestina dan menghancurkan sektor perikanan di wilayah tersebut. Kementerian Pertanian Palestina melaporkan bahwa sejak dimulainya agresi lebih sejak setahun lalu, sekitar 4.600 ton produksi ikan—bernilai lebih dari $20 juta—telah hilang.
Agresi ini menyebabkan sekitar 5.000 nelayan kehilangan pekerjaan, merampas sumber penghidupan mereka, serta mengancam ketahanan pangan lebih dari 50.000 orang yang bergantung pada sektor perikanan. Menurut Asosiasi Nelayan Palestina, sebelum genosida berlangsung, profesi ini sudah dianggap berbahaya karena seringnya pelecehan dan serangan oleh pasukan Israel.
Serangan Israel terhadap para nelayan Gaza semakin intensif selama agresi. Pada tahun 2020 saja, Israel menyerang kapal nelayan Palestina di lepas pantai Gaza lebih dari 320 kali, termasuk menutup area penangkapan ikan selama 16 hari pada bulan Agustus. Kini, kapal perang dan pesawat tempur Israel secara sengaja menargetkan para nelayan sebagai bagian dari kampanye kelaparan terhadap rakyat Gaza.
Tak hanya itu, nelayan yang tersisa dipaksa mencari ikan di dekat pantai akibat ancaman serangan Israel di laut. Namun, hasil tangkapan mereka terbatas pada ikan-ikan kecil yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Kondisi ini diperburuk oleh pencemaran jalur air dan sampah yang terbawa ke pantai.
Pekan ini, pasukan pendudukan Israel menangkap enam nelayan dan melukai seorang lainnya dalam serangan terbaru. Serangan ini mencerminkan pola pelecehan sistematis terhadap sektor perikanan Gaza, yang tak hanya menghancurkan mata pencaharian tetapi juga menjadi bagian dari strategi penghancuran ekonomi dan sosial rakyat Palestina.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








