Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), mengatakan bahwa lebih dari 18.500 pasien di Gaza membutuhkan perawatan medis khusus. Akan tetapi, perawatan medis khusus yang mereka butuhkan tidak tersedia di wilayah yang diblokade itu.
Dalam sebuah unggahan di platform X pada Selasa (03/02), Tedros mengatakan bahwa WHO dan para mitranya mendukung evakuasi 5 pasien dan 7 pendamping ke Mesir, yang keluar melalui perbatasan Rafah pada Senin. Dia menambahkan bahwa ini adalah evakuasi medis pertama melalui rute ini sejak Maret 2025.
Dr. Tedros menekankan perlunya rehabilitasi dan rekonstruksi yang mendesak untuk mengurangi ketergantungan pada evakuasi medis. Ini terjadi setelah lebih dari dua tahun serangan tanpa henti terhadap Gaza. Ia juga menekankan pentingnya peningkatan layanan kesehatan secara cepat. Ini termasuk penyediaan bahan medis, perbaikan fasilitas yang rusak, dan perluasan layanan vital. Hal-hal tersebut merupakan kebutuhan untuk membangun sistem kesehatan yang tangguh dan berkelanjutan di Gaza. Selain itu, ia menyerukan pembukaan kembali segera jalur rujukan medis ke Tepi Barat, termasuk Al-Quds bagian timur (Yerusalem Timur). Pembukaan tersebut mendesak untuk memastikan akses yang lebih cepat ke perawatan yang menyelamatkan jiwa.
Ratusan Pasien Gaza dalam Kondisi Kritis
Sebelumnya, Dr. Mohammed Abu Salmiya, Direktur Kompleks Medis Al-Shifa di Gaza, mengatakan bahwa komite medis khusus memprioritaskan kasus berdasarkan tingkat keparahannya. Ia mencatat bahwa sekitar 450 pasien berada dalam kondisi kritis. Hampir setiap hari, ada pasien yang meninggal karena keterlambatan dalam menerima perawatan di luar Jalur Gaza.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres juga menyerukan kepada Israel untuk segera mengizinkan bantuan kemanusiaan masuk ke Jalur Gaza. Hingga kini, otoritas Israel terus menghalangi puluhan warga Palestina yang hendak keluar dari wilayah tersebut guna mencari perawatan medis. Guterres menyampaikan imbauan tersebut pada Selasa, ketika lebih dari 100 warga Palestina yang sakit dan terluka berkumpul di perlintasan Rafah yang baru dibuka kembali. Mereka berada di sana dengan harapan dapat mengakses perawatan medis di luar negeri untuk menyelamatkan nyawa.
Sumber: Palinfo, Wafa, Al Jazeera








